Jumat, 03 Januari 2014

PERBEDAAN ETOS KERJA ANTARA JERMAN DAN INDONESIA

Saat ini bila kita bandingkan antara pemerintah Indonesia dengan Jerman,khususnya dalam bidang ekonomi tentu sangatlah berbeda. Kita sering bertanya-tanya dalam hati mengapa hal ituterjadi? Apakah karena orang Jerman lebih besar dari orang Indonesia sehingga otaknya juga lebih besar dibandingkan dengan otak kita?

Keberhasilan dari sebuah negara tidak hanya berpengaruh pada apakah negara tersebut adalah negara yang kaya akan kekayaan alam, sehingga dengan menjual segala kepunyaan tersebut dapat menjadi kaya. Keberhasilan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh etos kerja yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Etos kerja merupakan salah satu kunci suksessekaligus fondasi untuk mencapai suatu keberhasilan.Dengan tingginya etos kerjasuatu bangsa merupakan salah satu akar yang membawa suatu negara padakualitas  yang lebih baik terutama padabidang ekonomi,sehingga pada level yang lebih luas menjadikan suatu negaralebih maju.
Sebagai pelajar bahasaasing,khususnya bahasa Jerman,tidak cukup jika kita hanya mempelajari bahasanyasaja tanpa mengatahui asal-usul dan bagaimana model budaya di Jerman. Dalam pembicaraanya padakonferensi kerjasama Indonesischer Germanistenverband/AGI dengan Program StudiBahasa Jerman Universitas Negeri Yogyakarta yang bertempat di UniversitasNegeri Yogyakarta (UNY),Dr. Setiawati Darmojuwono, M.A, ketua AssosiasiGermanistik Indonesia (AGI) mengatakan berkomunikasi dengan orang asingseharusnya mempunyai kemampuan komunikasi antarbudaya agartujuan komunikasidapat tercapai dan efektif. Kemampuan ini juga diharapkan dapat mencegah konflikkarena kesalahpahaman budaya.

Pada mata kuliah KontrastiveKulturkunde kita mendapatkan ilmu bagaimana perbedaan bangsa Jerman denganIndonesia baik dari segi ekonomi,politik,budaya,pendidikan,dan lainsebagainya,karena hal itu sangat berpengaruh pada profesionalitas jika kitasudah menjadi seorang guru bahasa Jerman.Selain itu kita juga dapat belajardari cara kerja orang jerman,bagaimana mereka pada saat bekerja biladibandingkan dengan orang Indonesia.Hal ini juga mudah-mudahan dapatberpengaruh pada kualitas ekonomi Indonesia jika baangsa ini tidak malu dan maumencontohi etos kerja orang Jerman.

Tentunya saya juga berharap bahwakita kaum muda dan generasi penerus bangsa untuk mulai dari sekarangmenerapakan etos kerja yang tinggi yang mengedepankan pentingnya disiplin dalambekerja.
A.Pengertian Etos Kerja
Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak, kesusilaan, adatistiadat, kebiasaan. Etos ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti fakor budaya, faktor iklim, bahkan faktor agama. Menurut Jansen Sinamao, etos adalahkunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa.Etos juga merupakansalah satu syarat bagi upaya peningkatan kualitas tenaga kerja atau SDM,baikpada level individual,organisasional,maupun sosial.Jadi etos yang dimaksudkandisini merupakan suatu sikap,pandangan atau nilai yang mendasari prinsip kerjasuatu komunitas,masyarakat atau bangsa.

Kerja adalah usaha komesial yangmenjadi suatu keharusan demi hidup,atau sesuatu yang imperatif dari diri,maupunsesuatu yang terkait pada identitas diri yang telak bersifat sakral(TaufikAbdullah,1986).
Berdasarkan uraian diatas maka dapatdisimpulkan bahwa etos kerja adalah suatu perinsip,sikap atau pandangan hidupsekelompok orang atau masyarakat terhadap sebuah pekerjaan yang dihadapinya.

B.Bagaimana etos kerja bangsa Jerman
Jermansangat mengutamakan peraturan dan disiplin, dan dalam hal pekerjaan merekamelakukan dengan sangat serius. Di mata beberapa orang, dalam banyak kasus,orang Jerman kaku, tidak fleksibel, dan bahkan sedikit tidak manusiawi. Jermansangat mengutamakan peraturan tentang kebersihan dan kerapian. Di Jerman, baiktaman, jalan-jalan, atau teater atau tempat-tempat umum lainnya, dan dimana-mana terlihat rapi. Jerman juga menekankan peraturan untuk memakai pakaianpada tempatnya. Saat bekerja memakai pakaian kerja, saat di rumah meskipun andabisa berpakaian santai, tapi selama ketika ada tamu datang, atau pergi keluar,anda harus berpakaian rapi. Di teater, para wanita mengenakan rok panjang, atausetidaknya mengenakan pakaian gelap.

Berdasarkan survei yang dilakukan majalah Spiegel terhadap 1.000 responden bulan Maret 2005 menunjukkanbahwa nilai ”kesadaran nasional” (nationalconsciousness) merupakan nilai yang paling rendah (26-31 persen) di antaranilai-nilai lainnya yang dianggap penting dalam kehidupan rakyat Jerman.Nilaiyang tertinggi peringkatnya adalah kejujuran dan integritas (81-83 persen).Darisurvei ini dapat dilihat bahwa orang Jerman sangat memprioritaskan kejujurandan integritas dalam melakukan sesuatu.Adapun hal-hal yang perlu kita pelajaridari kebiasaan atau etos kerja orang Jerman adalah sebagai berikut:
1. Menghargai waktu
Jerman sangatmenghargai waktu, jika ada janji, tidak akan berubah waktu dengan mudah. OrangJerman jika diundang ke rumah orang lain atau pergi keluar untuk mengunjungiteman, akan tiba dengan tepat waktu , tidak membuang-buang waktu dengan datanglebih awal ataupun terlambat.Di Jerman jika tidak ada acara khusus, merekaharus menghargai tetangga sekitar dengan tidak diperbolehkan menbuatkebisingandari pukul 20:00-08:00 hari berikutnya. Jika ada acara khusus, harusminta izin di awal ke tetangga-tetangga. Jika tidak, akan menuai protes daritetangga dan bahkan akan dilaporkan ke polisi.

2.Tulus dan fokus padaetiket
Berurusan dengan orangJerman tidaklah memiliki banyak kesulitan. Dalam kebanyakan kasus, yang bisamereka lakukan, mereka akan segera memberitahu Anda “bisa melakukannya.” Dimanamereka tidak dapat dilakukan, mereka jelas akan memberitahu Anda “Tidak”, ataumemberi  jawaban yang  jelas. Tentu saja, tingkat hubungan pribaditidak akan pengaruh pada hubungan pekerjaan.Mirip dengan kebanyakan negaraBarat, Jerman lebih memperhatikan etiket. Mereka bertemu, selalu menyapa“Hello.” .Bertemu dengan teman mereka akan berjabat tangan dulu. Jika temanlama mereka akan saling memeluk. Pada acara formal mereka juga akan menciumtangan wanita sebagai rasa hormat.
Memberi hadiah adalahsangat dihargai di Jerman. Ketika diundang ke rumah orang lain, biasanya datangdengan hadiah. Kebanyakan orang dengan karangan bunga, beberapa tamu laki-lakidengan botol anggur, ada juga yang membawakan buku atau album. Dalam menyambutpara tamu (seperti stasiun, bandara dan tempat-tempat lain) untuk mengunjungipasien, banyak juga mengirimkan bunga. Biasanya mereka langsung membuka hadiahdi depan pemberi dan mengucapkan terimakasih.Di Jerman dan negara-negara Baratlain, perempuan adalah prioritas. Seperti saat antrian mereka akan mendahulukanperempuan. Dalam berbicara dengan rekan kerja, orang Jerman sangat berhati-hati untukmenghormati satu sama lain. Jangan tanya urusan pribadi orang lain (sepertiusia wanita).
Adapun etos kerja orang Jermanmenurut Max Weber dalam bukunya yang berjudul “The spirit of Capitalism” adalah :
1.Bertindak rasional
2.Berdisiplin tinggi
3.Bekerja keras
4.Berorientasi sukses material
5.Tidak mengumbar kesenangan
6.Hemat dan bersahaja
7.Menabung dan berinvestasi

C. Etos kerja orang Indonesia
Setelahmelihat etos kerja orang Jerman,pertanyaanya kemudian adalah seperti apa etoskerja bangsa Indonesia ini? Apakah etoskerja kita menjadi penyebab dari rapuh dan rendahnya kinerja sistemsosial,ekonomi dan kultural, yang lantas berimplikasi pada kualitas kehidupan?Ataukah etos kerja yang kita miliki sekarang ini merupakan bagian dari politikrepublik tercinta? Dalam buku"ManusiaIndonesia" karya Mochtar Lubis yang diterbitkan sekitar seperempatabad yang lalu, diungkapkan adanya karakteristik etos kerja tertentu yangdimiliki oleh bangsa Indonesia. Beberapa diantara ciri-ciri itu adalah:munafik; tidak bertanggung jawab; feodal; percaya pada takhyul; dan lemahwataknya. Beliau tidak sendirian. Sejumlah pemikir/budayawan lain menyatakan hal-halserupa. Misalnya, ada yang menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘budayaloyo,’ ‘budaya instan,’ dan banyak lagi.
Hasil pengamatan para pemikir/cendekiatersebut tentu ada kebenarannya. Tetapi tentunya (dan mudah-mudahan) bukanmaksud mereka untuk membuat final judgement terhadapbangsa kita. Pernyataan-pernyataan mereka perlu kita sikapi sebagai suatu tegurandan peringatan yang serius. Jika ciri-ciri etos kerja sebagaimana diungkapkanDalam “Manusia Indonesia” kitasosialisaikan, tumbuhkembangkan dan pelihara, maka berarti kita bergerak mundurbeberapa abad ke belakang.
 Tanpabermaksud terlarut dalam kejayaan masa lalu, sejarah menunjukkan bahwa bangsaIndonesia memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. TegaknyaCandi Borobudur dan puluhan yang lainnya hanya mungkin terjadi dengan dukunganetos Kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil rasional(sampai batas tertentu),kerja keras, dan lain-lain. Berkembang luasnya pengaruhkerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak,dengan berbagai perangkat dan Infrastruktur teknologis maupun sosial dalampengelolaan kenegaraannya, juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerjatertentu yang patut dihargai. Selain ini, pesantren-pesantren yang sampai kinimasih bertahan dan berkembang, memiliki akar pertumbuhan pada beberapa abadyang lalu, yang menunjukkan bahwa tradisi belajar mengajar telah menjadibagian kehidupan masyarakat Tanah Air jauh sebelum bangsa belanda mengunjungikita. kita juga mengenal slogan-slogan yang setidaknya dulu pernah menjadiperminan suatu etos kehidupan, seperti: Bhinneka Tunggal Ika; Ing Ngarso SungTulodo, ing Madyo Mbangung Karso, Tut Wuri Handayani; Menang Tan Ngasorake;Niteni, iroake, Nambahake. Ini mencerminkan etos kerja dalam konteks kehidupansosial yang penting dalam membangun persatuan, leadership, dan bahkan untukberinovasi. Masih banyak lagi slogan-slogan yang berlaku dan terkenal di berbagaidaerah-daerah di Tanah air
Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos KerjaProfessional putra-putri Indonesia denganciri-ciri sebagai berikut:
1.   Kerja adalah Rahmat
2.   Kerja adalah Amanah
3.   Kerja adalah Panggilan
4.   Kerja adalah Aktualisasi
5.   Kerja adalah Ibadah
6.   Kerja adalah Seni
7.   Kerja adalah Kehormatan
8.   Kerja adalah Pelayanan

D. Hubungan antara“etos kerja” dengan pembelajaran bahasa Jerman sebagai bahasa  asing
Ketika dunia kita menjadi lebih kompleks dan plural secarabudaya, topik tentang komunikasi antar budaya menjadi semakin penting.Kemampuan komunikasi antar budaya mempengaruhi kemampuan kita untuk berfungsidengan baik tidak hanya di tempat kerja dan sekolah, namun juga di rumah,bersama keluarga, dan pada saat kita bermain. Seiring dengan meningkatnyakebutuhan untuk melakukan komunikasi antar budaya, kita tampaknya juga harusmemperbaiki kemampuan komunikasi kita sendiri.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari bahasa Jerman khususnyapendidikan tentu sudah seharusnya kita harus mempelajari budaya Jerman.Katabudaya memang memiliki defenisi yang sangat luas apabila dijadikan judul dalammenyusun makalah ini.Oleh karena itu saya mengambil salah satu aspek daribudaya itu sendiri,yakni “etos kerja”.

Berbicara mengenai etos kerja tidak terlepas dari seorangmanusia sebagai makhluk sosial yang setiap hari selalu berhubungan danberkomunikasi dengan orang lain.Begitu pula dengan kita yang nantinya akanmenjadi seorang guru,selain bisa mengajari peserta didik dengan baik kita jugamemberikan teladan yang baik kepada anak didik dengan memperlihatkan etos kerjakita yang baik,seperti datang tepat waktu,serius dalam bekerja ,dan lainsebagainya sehingga bisa ditiru oleh mereka dan diterapakan di masyarakat.Darisitu mereka juga menerapakan hal tersebut dilingkungan mereka berada ,sepertidi tempat kerja,dan lain sebagainya.Berawal dari sini kita telah mencoba salahsatu langkah untuk memperbaharui kualitas ekonomi negara kita.Bukan hal yangtidak mungkin dan mustahil jika seluruh guru di Indonesia melakukan haldemikian,saya yakin 15-20 tahun yang akan datang negara kita akan menjadi salahsatu negara yang disegani di dunia khususnya di bidang ekonomi.Karena kalaudiperhatikan bahwa kualitas kerja guru di Indonesia masih sangat rendah.
Selain di bidang pendidikan,jika kita bekerja pada sebuahperusahaan apalagi perusahaan asing,etos kerja sangat diperhatikan olehperusahaan tersebut.Orang barat sangat memprioritaskan antara lain : bertindak rasional dalambekerja,berdisiplin tinggi,dan orang yang suka bekerja keras.Jika kitamenerapkan etos kerja orang indonesia (bukanya meremehkan,tetapi memangkenyataanya) kita tidak akan diterima pada perusahaan mereka.Pentingnyamempelajari budaya orang lain dalam hal bekerja disini adalah bagaimana kitamemahami budaya bangsa lain,serta mencoba untuk masuk budaya mereka yang baik danyang jeleknya jangan ditiru, dengan sendirinya hubungan kita akan baik denganmereka dan memberikan dampak yang positif bagi kita juga.

(Doc. BKOL Banten)

1 komentar: